Seni tari bukan sekadar gerak tubuh yang estetis, melainkan sebuah media tutur yang membawa identitas budaya. Di Aceh Besar, tepatnya di MIN 27 Aceh Besar, lahir sebuah karya tari kreasi orisinal bertajuk “Tika Seuke”. Dibawakan dengan penuh energi dan keanggunan sanggar seni “Beujroh”, tarian ini menjadi manifestasi dari filosofi kearifan lokal yang dikemas dalam bentuk pertunjukan modern yang edukatif yang diperankan oleh tujuh orang penari atau peserta didik MIN 27 Aceh Besar.
Secara etimologi, “Tika” berarti tikar dan “Seuke” merujuk pada tanaman pandan duri (daun seuke) yang menjadi bahan baku utamanya. Menganyam tikar seuke adalah tradisi turun-temurun kaum perempuan di Aceh, khususnya di wilayah pedesaan Aceh Besar. Aktivitas ini bukan sekadar pekerjaan tangan, melainkan simbol kesabaran, ketelitian, dan kebersamaan antar warga.
Struktur Gerak dan Visualisasi
Tari Tika Seuke yang dibawakan oleh sanggar seni Beujroh menonjolkan sinkronisasi gerak yang dinamis. Beberapa elemen kunci dalam tari ini yang meliputi:
1. Gerak Menganyam: Para penari memperagakan transisi gerak tangan yang lincah, menyerupai jemari yang sedang menyusun helaian daun pandan menjadi pola-pola rumit.
2. Pola Lantai yang Rapat: Mencerminkan kerenggangan dan kerapatan anyaman tikar, sekaligus melambangkan kekompakan (ukhuwah) antar peserta didik
3. Properti Kreatif: Penggunaan properti yang merupakan tikar yang dianyam dari helaian daun seuke memberikan dimensi visual yang nyata, mempertegas pesan yang ingin disampaikan.
Sanggar seni Beujroh, yang namanya sendiri berarti “bagus” atau “baik” dalam bahasa Aceh, menjadi wadah bagi talenta peserta didik di MIN 27 Aceh Besar untuk berekspresi. Melalui Tari Tika Seuke, mereka berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai tradisional tidak harus hilang ditelan zaman. Sebaliknya, tradisi menganyam yang mungkin mulai jarang terlihat di kalangan generasi Z, justru “dihidupkan” kembali di atas panggung dengan semangat baru.
Tari Tika Seuke merupakan sebuah penghormatan terhadap warisan indatu (leluhur). Ia mengingatkan kita bahwa dari sehelai daun pandan yang berduri, melalui proses kesabaran dan kerja keras, dapat tercipta sebuah karya yang bermanfaat dan indah. Bagi MIN 27 Aceh Besar, tarian ini bukan hanya sekadar prestasi seni orisinal, melainkan upaya menanamkan rasa bangga terhadap identitas keacehan sejak dini.